Membangun Dialog Lintas Iman

dengan Mendalami Dokumen Abu Dhabi dan Ensiklik Fratelli Tutti

 

Seksi Hubungan Antar Agama dan Kemasyarakatan (HAAK) Gereja St Paskalis Paroki Cempaka Putih telah mengadakan Kegiatan Hari Studi dengan tema : Mendalami Dokumen Abu Dhabi dan Ensiklik Fratelli Tutti pada tanggal, 27 Maret 2021.

Kegiatan ini bertujuan untuk menangkap dan memahami pesan luhur kedua dokumen penting yang berkaitan dengan hubungan antar agama tersebut. Kegiatan dalam bentuk webinar ini menghadirkan RP. Dr. Andreas B. Atawolo, OFM seorang Imam yang mendalami Teologi Dogmatik dari STF Driyarkara Jakarta dan Sekretaris Forum Kerukunan Umat Beragama Jakarta Pusat, Nanda Khairiyah, M.Si.

Hadir 75 orang Peserta secara daring yang terdiri Dewan Paroki Harian Gereja Santo Paskalis, Pengurus Dewan Paroki Pleno, Pegiat HAAK, Komunitas Lintas Iman, Ormas Katolik, Orang Muda Katolik lintas Paroki bahkan hingga Biarawati asal Indonesia yang berkarya di Filipina. Ensiklik Fratelli Tutti yang ditandatangani pada 3 Oktober 2020 oleh Paus Fransiskus menyoroti paradoks kemajuan dunia. Pandemi memperlihatkan bahwa awan hitam kemajuan dunia menutupi sisi kemanusiaan kita, eksklusifisme, egoisme dan individualisme. Dalam kemajuan ada manipulasi dan kepalsuan, yang lemah, sakit, miskin, minoritas, terabaikan dan dilepaskan dari konektifitas kemajuan.

Human Fraternity atau yang biasa disebut Dokumen Persaudaraan Abu Dhabi yang menjadi salah satu inpirasi dari Ensiklik Fratelli Tutti, lahir untuk menghidupkan kembali momentum pertemuan perdamaian pada situasi perang salib antara Santo Fransiskus dari Asisi dengan Sultan Malik Al-Kamil. Perjumpaan menghadirkan dialog damai. Spirit ini diteruskan oleh Paus Fransiskus dan Ahmad Al-Tayyeb. Kedua tokoh dengan tegas menyatakan bahwa “…agama tidak pernah menghasut peperangan dan memancing rasa benci, permusuhan, ekstremisme dan kekerasan…..”

Andreas D. Atawolo,OFM menegaskan bahwa Dokumen Abu Dhabi dan Ensiklik Fratelli Tutti sangat relevan dengan kehidupan kita bangsa Indonesia. Dengan kekayaan keragaman suku, agama dan budaya masyarakat, kita perlu terus menerus membangun budaya dialog. Peran FKUB sebagai jembatan kerukunan sangat diperlukan. “Fungsi FKUB menjaga kerukunan, ibarat jembatan, jembatan harus aman dan kokoh. Maka kami harus menjaga kekokohan jembatan. Pertemuan ini sebagai cara untuk mengokohkan jembatan itu”, demikian disampaikan oleh Nanda Khairiyah.

RP. Michael Peruhe, OFM Pater Minister Provinsi OFM Indonesia  yang turut hadir dalam diskusi ini memberikan gagasannya bahwa : ”Orang muda perlu diajak terus membangun persaudaraan dan membangun persaudaraan insani. Dengan itu kita membantu orang muda menjadi pakar untuk membangun persaudaraan. Isu lingkungan, bisa menjadi sarana membangun dialog. Pertemuan atas keprihatinan bersama. Disitulah orang muda perlu selalu berjumpa atas dasar keprihatinan.”

Dialog karya usulan Bambang Ismawan seorang tokoh pemberdayaan masyarakat yang hadir dalam acara ini, menjadi tantangan bagi seluruh peserta ke depan. Dialog iman harus ditindaklanjuti dengan dialog karya salah satunya melalui pengembangan ekonomi mikro dalam upaya pengentasan kemiskinan”, demikian ditegaskan oleh Bambang Ismawan.

Peserta mengikuti acara yang berlangsung selama kurang lebih 2,5 jam ini. Ke depan dialog seperti webinar yang diselenggarakan seksi HAAK Paskalis dirasa perlu terus dilanjutkan terutama dengan lebih banyak melibatkan anak muda dalam isu yang menjadi keprihatinan bersama. FKUB Jakarta Pusat juga berencana membuat talkshow dengan kaum muda lintas agama untuk semakin memperkokoh kerukunan.

Panitia Hari Studi HAAK Gereja Santo Paskalis, Cempaka Putih Jakarta Pusat

Lucia Wenehen

gambar_art
Sumber:Dokumentasi Panitia
Seksi/Bidang