sekolah cinta

[Yer, 1:4-5,17-19; 1Kor 12:31-13:13; Luk, 4:21-30]

Minggu ini merupakan peristiwa penting bagi kita, umat Paroki St. Paskalis, karena Gedung Karya Pastoral (aula) yang sudah lama kita rindukan akhirnya dapat diresmikan (diberkati) oleh ordinaris wilayah. Hal ini memungkinkan aktifitas kegiatan umat dapat berjalan dengan baik dan tentu saja kita berharap bahwa dengan adanya sarana-prasarana yang ada membuat kita lebih aktif dalam pelbagai kegiatan rohani serta semakin menumbuhkan iman dan pengharapan kita. Saya yakin bahwa kerinduan (pengharapan) kita ini menjadi nyata dengan diresmikannya GKP ini terjadi karena kerja sama, perhatian, kepedulian, dan cinta dari umat sekalian dan berbagai pihak yang ikut mendukung rencana hingga peresmian GKP. Satu hal yang tidak bisa kita pungkiri bahwa semua pengharapan kita menjadi nyata karena kebesaran cinta Tuhan bagi kita semua.

Bukan secara kebetulan juga bahwa bacaan-bacaan suci pada Minggu ini menawarkan kepada kita perihal cinta. Yeremia dalam bacaan pertama mengatakan kepada kita bahwa cinta itu sudah tertanam dalam diri kita bahkan sebelum kita dibentuk dalam rahim ibu. Betapa dahsyatnya cinta itu! Kemudian, St. Paulus dalam bacaan kedua melukiskan kepada kita soal esensi cinta itu. Bahwa cinta itu sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri, tidak sombong, tidak mencari keuntungan diri sendiri, dst. Lebih dari itu, hemat saya, St. Paulus sekaligus membuka diri kita bahwa mutu cinta itu tidak ditentukan oleh banyaknya orang yang kita cintai, tetapi terletak pada seberapa besar kita mencintai orang secara nyata. Apakah kita sungguh-sungguh mencintai orang lain dengan penuh ketulusan atau tidak? Apakah ada semangat pengorbanan dalam diri kita bagi orang lain atau tidak ?

Selanjutnya dalam Injil, Lukas menggambarkan kepada kita bahwa cinta itu melampaui batas pemahaman manusia. Cinta menembus segala macam sekat atau pengkotak-kotakan dalam diri manusia. Sederhananya adalah bahwa cinta itu tidak pilih-pilih. Pengalaman penolakan Yesus dari “orang-orang”nya sendiri menghantar kita untuk sampai pada ulasan mengenai cinta yang tidak terbatas itu, yang melampaui segala macam sekat atau pengkotak-kotakan. Hal ini nampak dalam gambaran tentang Elia yang berkorban untuk janda di Sarfat, di tanah Sidon dan Nabi Elisa yang mentahirkan Naaman, orang dari Siria.

Ada orang yang mengatakan bahwa cinta manusia kerapkali berubah-ubah, begitu pun hatinya. Dalam situasi demikian, masing-masing kita dituntut untuk belajar dan terus belajar mencintai orang lain dengan penuh ketulusan. Harus ada dalam diri kita kesadaran baru bahwa hidup kita adalah sekolah cinta. Dalam bahasa iman, hal ini dipahami sebagai suatu kesempurnaan hidup; bahwa kesempurnaan hidup manusia berarti mencapai cinta. Inilah yang kemudian dibingkai oleh St. Paulus bahwa yang terbesar dari iman, harapan, dan cinta adalah cinta itu sendiri.

Karena hidup kita adalah sekolah cinta dan gurunya adalah Tuhan kita, maka kita perlu menyingkirkan dari dalam diri kita cinta primordial yang hanya mau menerima dan mencintai (memberi perhatian) pada orang-orang seasal, sejalan, sekehendak, sepikiran, serasa, dll.

Cinta seperti ini menjebakkan diri dalam cinta terbatas yang membentuk sekat atau pengkotak-kotakan. Seringkali kita mengasihi seseorang hanya apabila orang itu juga mengasihi atau memberi keuntungan kepada kita. Sebaliknya, orang yang tidak mengasihi atau memberi kontribusi positif pada kita tidak kita anggap sebagai orang yang perlu dikasihi. Selain itu, mesti kita sadari pula bahwa kita hidup dalam dunia yang diliputi krisis dan erosi nilai termasuk krisis dan erosi cinta. Banyak keluarga kita mengalami disharmony dan broken-home, lantaran cinta yang semula membara perlahan-lahan jadi pudar dan redup, layu dan mati atau berubah menjadi cinta yang buta alias kebencian. Masyarakat kita sering dihantui teror dan kerusuhan, pertikaian dan permusuhan karena memang belum mengkonkretkan cintanya kepada Tuhan dengan segenap jiwa-raga, belum menyadari sepenuhnya bagaimana kasih Tuhan itu menjamah hati dan menyembuhkan luka-luka kemanusiaan kita.

Mari kita belajar mencintai Tuhan dan sesama dengan penuh ketulusan tanpa sekat, seperti Tuhan telah mengasihi kita dengan kasih yang sungguh menghidupkan dan menyelamatkan. Semoga***

[RP. Jimmy H.R.Tnomat, OFM].

Tipe
Seksi/Bidang