Allah peduli

[Yes, 62:1-5; 1Kor 12:4-11; Yoh 2:1-11]

Kehidupan kita tidak mungkin luput dari kesulitan, persoalan, dan kekurangan. Hal ini menegaskan bahwa kita adalah manusia yang terbatas. Kita tidak sempurna dalam banyak hal. Karena itu, pantas dan pasti kita memiliki dan mengalami kesulitan, persoalan, dan kekurangan dalam hidup. Di antara kesulitan, persoalan, dan kekurangan itu, ada yang kecil dan biasa sehingga pada umumnya dapat kita hadapi dan atasi sendiri atau juga dengan bantuan orang lain. Namun, ada juga kesulitan, persoalan, dan kekurangan besar yang bisa melampaui kemampuan kita. Hal ini bisa mendatangkan krisis hidup yang cukup besar dan berat dalam kehidupan kita.

Dalam Injil hari ini, kita menemukan kenyataan tentang kesulitan besar yang dialami oleh tuan pesta, yaitu kekurangan anggur. Kalau terjadi kekurangan anggur pada saat yang biasa-biasa saja, hal itu tidak menjadi persoalan. Namun, kekurangan anggur itu justru terjadi pada pesta nikah. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa anggur bagi orang Yahudi menjadi minuman wajib yang cukup istimewa, apalagi kalau dalam sebuah pesta nikah. Kalau ada anggur, maka pesta menjadi hebat. Tanpa hidangan wajib seperti itu, pesta dianggap belum lengkap dan tidak sempurna, serta tuan pesta pasti akan merasa malu atau malah dipermalukan oleh para undangan karena ketiadaan anggur.

Apa yang bisa dibuat dalam situasi sulit ini? Orang pertama yang berinisiatif untuk mengatasi persoalan yang bisa saja mempermalukan tuan pesta itu adalah Bunda Maria. Ia datang kepada Tuhan Yesus dengan ungkapan penuh kepolosan sembari berharap ada solusi yang bisa diberikan: “Mereka kehabisan anggur!” dan selanjutnya menyampaikan kepada para pelayan pesta itu meskipun Yesus mengatakan bahwa “waktu”-Nya belum tiba: “apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!” (Yoh, 2:3-5). Inisiatif Bunda Maria menunjukkan kepedulian besar terhadap orang yang sedang berada dalam kekurangan, kesulitan, dan persoalan. Kepedulian ini mendatangkan mukjizat.

Berangkat dari peristiwa ini kita memetik buah refleksi berikut ini, yaitu

PERTAMA setiap kesulitan, persoalan, dan kekurangan dalam kehidupan kita akan teratasi apabila kita melibatkan Bunda Maria di dalamnya. Kisah Injil tadi menunjukkan secara jelas kepada kita bahwa Maria lebih dahulu mengetahui kesulitan yang dialami oleh tuan pesta. Hal ini sekaligus berarti bagi kita bahwa Bunda Maria juga mengetahui dengan baik setiap kesulitan dan persoalan yang kita hadapi dan dia juga akan meneruskan setiap kesulitan dan persoalan kita kepada Tuhan. Sebab, bagi kita orang beriman Katolik, Bunda Maria adalah “Pembela, Pembantu, Penolong, Pendoa, Perantara” (bdk, Lumen Gentium art. 62) kita semua. Sebagai Bunda, dialah jembatan yang menghubungkan kita dengan Tuhan. Untuk sampai kepada Tuhan, kita perlu melewati dan melalui Bunda Maria, per Mariam ad Jesum. Melalui dia segala seruan, keluhan, dan harapan kita sampai kepada Tuhan. Melalui dia pula perintah dan seruan Tuhan sampai kepada kita, umatNya. Ia menyalurkan dan meneruskan amanah atau perintah Tuhan bagi kita untuk kita lakukan, “apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!”  Selain itu, hemat saya, kehadiran Bunda Maria merupakan bukti perhatiannya terhadap kebutuhan manusiawi, sekaligus mengungkapkan perhatian Allah terhadap manusia. Yesus mengabulkan permintaan bundaNya walaupun “waktu”-Nya belum tiba. Betapa besar pengaruh Bunda Maria. Ia adalah “masterpiece” karya rahmat Allah. Maka Allah seringkali mengabulkan doa-doa yang dipanjatkan melalui Bunda Maria.

KEDUA, dengan tenang Maria memberitahu situasi kritis yang dihadapi tuan pesta kepada Yesus: “mereka kehabisan anggur!” Maria tidak mendesak atau memaksa Yesus. Ia bahkan tidak meminta, hanya memberitahu situasi yang dialami. Maria tahu, dengan menyampaikan situasi apa adanya, Yesus akan berbuat sesuatu. Dan itulah yang terjadi. Maria mengajarkan kepada kita bahwa kita tidak perlu memaksa Tuhan. Tuhan pasti akan berbuat sesuatu. Kita cukup menyampaikan situasi yang kita alami, seperti yang dilakukan oleh Maria kepada Yesus. Tuhan pasti akan membantu kita dalam setiap kesulitan dan persoalan yang kita hadapi, sebab Allah kita adalah Allah yang peduli.

KETIGA, Bunda Maria tanggap dan peduli terhadap apa yang menjadi kesulitan, persoalan, kekurangan, serta kebutuhan orang lain. Melalui sikap ini, kita sekaligus diajak untuk tanggap dan peduli terhadap kekurangan, persoalan, dan kebutuhan orang lain. Selain dengan doa, ada pula berbagai macam cara yang dapat kita lakukan sebagai ungkapan kepedulian kita, seperti bersedekah, mendatangi dan membantu serta meringankan orang lain yang sedang ditimpa kesusahan, mendengarkan keluhan (sharing) orang lain yang sedang berada dalam kesulitan dan persoalan hidup, dan tindakan konkret yang lainnya. Dengan demikian, kita menjadi penyalur rahmat Tuhan bagi orang lain dalam kehidupan kita.

Mari kita konrketkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Tuhan memberkati kita. AMIN***

RP. Jimmy HR Tnomat, OFM

Tipe
Seksi/Bidang