damai

[Mi. 5:2-5a, Ibr. 10:5-10, Luk.1:39-45]

“Tuhan, jadikanlah daku pembawa damai!”  Doa singkat yang diuntaikan oleh St. Fransiskus Asisi. Kecintaannya pada damai membuatnya mampu menyebut semua ciptaan sebagai saudara. Beberapa kisah yang menarasikan perjuangannya membawa damai adalah kisah pertemuannya dengan Sultan Malek al-Khamil, pemimpin pasukan Muslim pada saat perang salib yang berkecamuk ketika itu. Fransiskus mempertaruhkan nyawanya menjumpai Sang Sultan dengan satu intensi membawa (berbicara dari hati ke hati) damai bagi saudara-saudara Muslim di markas mereka. Kisah lain adalah ketika ia memperdamaikan penduduk kota Gubbio-Itali dengan seekor serigala buas. Ia menjumpai serigala itu sebagai ‘saudara’nya, padahal ketika itu semua penduduk sangat takut terhadap serigala itu karena sudah banyak yang jadi korban keganasan serigala. Dengan penuh kelembutan, Fransiskus berhasil berbicara dengan serigala itu dan mendamaikan serigala itu dengan penduduk kota sehingga mulai saat itu tidak ada lagi yang menjadi korban keganasan serigala.

Bicara soal damai, hemat saya, adalah dambaan semua umat manusia. Sejarah hidup umat manusia selalu ditandai dengan perang, konflik, perselisihan, dan pertikaian yang tak berkesudahan. Manusia menjadi serigala bagi sesamanya. Hal ini tepat apa yang diungkapkan oleh filsuf Inggris, Thomas Hobbes, bahwa manusia telah menjadi “homo homini lupus.” Manusia tidak lagi melihat yang lain sebagai saudaranya, melainkan menjadi musuh yang harus

disingkirkan. Belakangan ini kita menyaksikan bagaimana perang (terorisme) yang dikampanye dengan penuh kesadaran oleh kelompok-kelompok tertentu dengan berbagai macam dalil, bahkan mengatas-namakan agama tertentu, membunuh sesamanya.

Pertanyaannya adalah mengapa damai itu sulit digapai? Jawabannya adalah karena manusia sendiri tidak memiliki keharmonisan dalam dirinya sendiri. Ketidakharmonisan dalam diri sendiri ini melahirkan kepicikan, kesombongan, perbuatan jahat dan penuh nista,  yang pada gilirannya mengorbankan orang lain. Andaikata manusia sadar akan jati dirinya, eksistensi (keberadaannya), bagaimana pentingnya orang lain dalam hidupnya, dan dari mana manusia tercipta, maka tentu saja tidak ada perselisihan, konlfik, peperangan, usaha menyingkirkan yang lain dalam kehidupan ini.

Penerimaan jati diri dan eksistensi inilah yang digambarkan Nabi Mikha dalam bacaan pertama tadi, “Hai Betlehem di wilayah Efrata, …..dari padamu akan bangkit bagiKu seorang yang akan memerintah Israel….Ia akan besar sampai ke ujung bumi, dan menjadi damai sejahtera” (Mi., 5:2.5a). Orang yang menyadari jati diri dan eksistensinya berarti  mau hidup berdamai dengan siapa pun karena hal ini juga merupakan kehendak Allah. Bahkan yang kemudian ada dalam diri orang yang sadar akan jati dirinya adalah perjuangan untuk melakukan kehendak Allah, sebab ini adalah tugas perutusan yang harus dilakukan dalam hidupnya, sebagaimana dikatakan dalam bacaan kedua tadi; “….aku datang untuk melakukan kehendakMu”                (Ibr. 10:8).
Saya selalu percaya bahwa orang yang cinta damai adalah juga orang yang keluar dari dirinya untuk membahagiakan orang lain. Kisah Fransiskus Asisi di atas tadi menggambarkan soal ini. Jauh sebelum Fransiskus, Maria-Bunda Penebus, telah melakukan hal itu ketika ia mengunjungi Elisabeth, saudarinya, membagikan sukacita dan kebahagiaan yang dialaminya (Luk, 1:39-45) sebagaimana kita dengarkan dalam bacaan Injil tadi.

Mesti kita akui bahwa zaman kita ini dipenuhi dengan berbagai macam tindakan penuh kepicikan dan kejahatan sebagaimana saya utarakan di atas. Hidup manusia dipenuhi pula oleh kegelisahan, kegalauan, pikiran serba kacau, dan batin yang selalu mencari dan mendambakan kedamaian, tetapi tak kunjung mendapatkannya. Bukan hanya soal peperangan dan terorisme sebagai buah dari kegelisahan hidup dan pikiran manusia, tapi hasilnya juga dapat kita jumpai dalam hidup kita masing-masing mulai dari keluarga kita. Orang menjadi tidak sabar, gampang emosi dan marah, gampang menyalahkan orang lain, mau menang sendiri, mudah sekali memfitnah yang lain, tidak sanggup menerima kelebihan dan (apalagi) kekurangan orang lain, tidak setia, penuh kepalsuan hidup, dan masih banyak lagi contoh lain yang bisa kita sebutkan.

Kedamaian menjadi semakin jauh dalam hidup kita karena laku-tapa kita tidak mencerminkan kehendak Tuhan. Kehendak Tuhan yang penuh kebaikan dan menghasilkan kedamaian yang kita cari dan dambakan tak kunjung kita peroleh karena yang kita perjuangkan adalah kehendak sendiri.  Yang terjadi kemudian adalah tidak ada ketenangan batin dan kedamaian dalam hidup.

Oleh karena itu, kembali kepada Tuhan adalah satu-satunya jalan untuk menggapai damai dan menjadi saluran (rahmat) sukacita bagi yang lain. Itu berarti mesti ada kesadaran diri untuk mengandung dan memiliki Tuhan dalam “rahim” diri kita seperti Maria. Sebab, hemat saya, kembali kepadaNya dan mengandungNya adalah penawar segala perselisihan, percekcokan, pertikaian, dan tindakan-tindakan menyimpang tadi. Ini juga adalah panggilan kita; untuk melakukan kehendakNya. Dengan demikian, kita dapat menjadi pembawa damai dan sukacita dalam kehidupan kita, sehingga yang ada bukan lagi homo homini lupus, tapi homo homini homo(menjadi manusia bagi yang lain)!
[RP. Jimmy HR Tnomat, OFM]

Tipe
Seksi/Bidang