yesus pemimpin sejati

Beberapa hari terakhir ini, bangsa kita dihebohkan oleh berita tentang pimpinan DPR, Setya Novanto, yang mengadakan pembicaraan dengan Direktur PT Freeport Indonesia, Maroef Sjamsoeddin, untuk melepaskan 20% saham. Ditengarai bahwa 20% saham yang dimintakan oleh pimpinan DPR ini diperuntukkan bagi Presiden dan Wapres, Jokowi dan Jusuf Kalla. Padahal hal ini tidak pernah dimintakan oleh Presiden dan Wapres; ada pencatutan nama pemimpin bangsa berbhinneka ini atas nama dan demi kepentingan pribadi. Menteri ESDM, Sudirman Said, dengan sejumlah bukti melaporkan hal ini kepada MKD. Sejumlah wakil pimpinan DPR mempertanyakan tindakan Menteri ESDM bahkan kesannya 'membela' pimpinan DPR. Sementara pihak lain khususnya sebagian masyarakat Indonesia bereaksi cukup keras dengan meminta agar masalah ini dibawa ke ranah hukum dan menuntut agar pimpinan DPR ini segera diturunkan, karena masyarakat merasa bahwa negara ini terus disandera [Kompas; edisi Selasa 17 November 2015, him 1] oleh kepentingan pribadi dan golongan tertentu.

Gambaran kita tentang kewibawaan dan orientasi kerja (kinerja) dari seorang pemimpin mungkintakabur karena geliat yang tengah terjadi di bangsa ini. Sebab, kita punya persepsi yang sama bahwa pemimpin itu harus memiliki kewibawaan karena pemimpin mau melayani semua orang untuk mencapai kesejahteraan bersama (bonum commune); bukan mencari kekuasaan, mencari nama/popularitas, dan mencari harta kekayaan duniawi.

Kata dan perbuatan pemimpin senantiasa dijiwai kebenaran dan kebaikan, kejujuran dan transparansi; bukan kebohongan dan kepalsuan, ketidakadilan dan kekuasaan, pemerasan dan penindasan. Pada saat sebagian besar masyarakat Indonesia diresahkan oleh geliat pemimpinnya, kita memperoleh gambaran tentang seorang pemimpin sejati (Raja sesungguhnya !) dalam diri Tuhan kita Yesus Kristus.

Yesus menegaskan diri sebagai pemimpin sejati yang dapat diandalkan ketika IA berkata kepada Pilatus : " .•. Aku adalah raja. Untuk itulah Aku datang ke dunia ini, yakni untuk memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku" (bdk, Yoh 18:37). PerkataanNya jelas menunjukkan bahwa IA adalah Raja Kebenaran bukan raja kebohongan dan kepalsuan, ketidakadilan dan kekuasaan, pemeras dan penindas. IA adalah pemimpin sejati yang memiliki kewibawaan karena memimpin untuk melayani semua orang untuk mencapai kesejahteraan hidup (bonum commune); bukan pemimpin yang mencari kekuasaan, mencari nama/popularitas, dan mencari harta kekayaan duniawi demi diri sendiri.

Bagi kita orang Kristiani kiranya jelas bahwa kita adalah pemimpin. Artinya kita menjadi pemimpin diri sendiri. Memimpin diri dalam takaran kepemimpinan Yesus sebagai model pokok iman kita kepadaNya. Kita menjadi pemimpin diri dan sesama untuk keselamatan universal dengan memperjuangkan dan berusaha mewujudkan nilai universal lintas batas: kebaikan dan kebenaran, keadilan dan perdamaian, kejujuran dan transparansi/ keterbukaan. Hal ini sekaligus berarti tidak ada ruang dalam diri kita untuk kebohongan dan kepalsuan, ketidakadilan dan kekuasaan, pemerasan dan penindasan, orientasi hidup yang hanya sekedar mencari nama/popularitas dan mencari harta kekayaan duniawi bagi diri sendiri.

Bila hidup kita dipenuhi dengan kebohongan dan kepalsuan, ketidakadilan dan kekuasaan, pemerasan dan penindasan, hanya sekedar mencari nama/popularitas, maka terbuka kemungkinan bagi kita untuk menyingkirkan Allah dalam kehidupan kita. Kita menjauhkan diri dari kehendak Allah sendiri, sebab yang berkuasa dalam diri kita adalah kehendak kita sendiri. Diri kita kemudian menjadi lahan subur bagi bertumbuhnya Kerajaan setan dan iblis yang menghancurkan, bukan lagi Kerajaan Allah yang bertahta dengan segala kekuasaan dan kemuliaanNya yang membawa keadilan, kebaikan, kebenaran, damai, sukacita, dan kebahagiaan bagi sesama dalam kehidupan kita.

Ketika kita menjadi pribadi yang mampu memimpin diri dengan baik terutama dalam mewujudkan kehendak Allah berupa nilai-nilai universal lintas batas tadi, maka Kerajaan Allah bertumbuh dan berkembang di dalam diri, hidup dan lingkungan kita. Oleh karena itu, mari kita upayakan hal itu saat ini dan sepanjang kehidupan kita. Tuhan memberkati! AMIN.***

RP. Jimmy Hendrik Rance Tnomat, OFM

Tipe
Seksi/Bidang