Pada hari minggu Palma ini kita diajak untuk menyaksikan dua peristiwa akhir dalam hidup Yesus. Pertama, peristiwa di mana Yesus dielu-elukan oleh orang-orang pada zamanNya dan kedua peristiwa di mana Yesus mengalami saat-saat penderitaan, disiksa, didera, dihina dan disalibkan. Dua peristiwa ini merupakan peristiwa yang tentu saja juga dialami oleh kita sebagai manusia, peristiwa kebahagiaan dan peristiwa duka.

Umumnya, sebagai manusia normal, kita akan mudah menerima pengalaman bahagia daripada pengalaman sengsara atau penderitaan. Seringkali kita menghindar atau bahkan menolak pengalaman-pengalaman yang kita tahu akan membawa luka dalam hidup kita. Peristiwa pelecehan seksual, peristiwa kematian orang yang kita cintai, peristiwa musibah dan bencana, peristiwa sakit, peristiwa tertimpa masalah dan nestapa, peristiwa di PHK oleh perusahaan dll merupakan contoh-contoh peristiwa yang tidak mudah kita terima dalam kehidupan kita sebagai manusia.

Maka, peristiwa Yesus merupakan peristiwa yang tidak biasa. Karena meskipun Ia adalah sama dengan kita sebagai manusia, namun Ia menunjukkan sisi sebagai manusia yang luar biasa dengan keadaan dan kesadaran diri dalam mengalahkan egoNya. Apa yang dilakukan oleh Yesus adalah teladan bagi kita dalam mengikuti Dia.

Mengapa Yesus mampu melakukan hal itu?

1. Yesus adalah Allah namun dalam keallahan Yesus Ia tetap berelasi secara intim dengan BapaNya. Kita dapat mengetahui hal ini dari apa yang tertulis dari Kitab Suci seperti Yesus yang menyendiri dan berdoa kepada Bapa atau Yesus yang mengucapkan seruan “Allahku ya Allahku ke dalam tanganMu, Ku serahkan hidupKu.” Dalam hal yang pertama ini kita belajar bahwa, seberat apapun hidup kita tetapi jika kita mampu menyerahkan dan menyatukan penderitaan kita dalam nama Tuhan Allah maka kita akan mendapat kekuatan dan ketenangan dalam menghadapi semua penderitaan.

2. Yesus datang untuk melaksanakan kehendak Allah. Kehendak Allah lebih besar daripada kehendak Yesus sendiri. Atau kalau kita melihat seluruh kehidupan Yesus, hidup Yesus adalah seluruhnya menjalankan kehendak Allah. Maka, penting juga melihat pengalaman hidup kita dalam kerangka pemahaman kehendak Allah atas hidupku. Ini tentu saja tidak mudah. Tetapi yang penting adalah bagaimana meyakini diri sendiri bahwa aku diutus ke dalam dunia ini untuk bersama Yesus melaksanakan kehendak Allah. Sehingga apabila Aku mendapat penghinaan dan derita karena Aku murid Yesus, terimalah itu sebagai bagian dalam menjalankan kehendak Allah.

[RP. Patris OFM].

Tipe